My first Online Experience : Diawali dari Salah Jurusan

25 Juli 2009 at 17:49 | In Tak Berkategori | 1.869 Comments
Tags:

Pada saat pertama aku online, aku sudah berstatus mahasiswa, mahasiswa teknik informatika. Saat itu (tahun 1995)  jangankan internet, komputer saja masih sangat jarang.  Jujur awal masuk TI, aku nggak tahu jurusan ini nantinya mempelajari apa. Pengertian informatika sendiri, aku masih sangat awam. Aku yang nggak pinter, yang dari awal sudah bisa memprediksi akan kalah berkompetisi memperebutkan kursi di perguruan tinggi melalui jalur UMPTN (sekarang SPMB) memaksa orang tua untuk bisa menguliahkan aku di luar negri (swasta maksudnya). Karena aku sangat menyukai dunia tulis menulis, makanya ketika ada kampus yang menawarkan jurusan Jurnalistik, yaitu STT STIKMA Internasional Malang, tanpa banyak pertimbangan aku menjatuhkan pilihan ke STT tersebut. Waktu pendaftaran ada 2 pilihan jurusan, Jurnalistik dan Teknik Informatika. Jurnalistiknya hanya sampai D3, sementara Informatika, ada yang sampai jenjang S1. Kupikir Informatika ini hampir sama dengan jurnalistik, karena ada kata “informatik”, “tik” nya. Apalagi didukung dengan kunjungan ke Jawa Pos ketika selesai pengumuman penerimaan mahasiswa,  aku mantap memilih jurusan Teknik Informatika jenjang S1.

Disaat daftar ulang, aku mendapat sedikit gambaran bahwa Informatika jauh berbeda dengan jurnalistik. Informatika mempelajari pemrograman (pada saat itu aku juga nggak tahu apa maksud kata pemrogramman ini). Yang dipegang bukan berita, tapi komputer. Aku jadi ragu, karena menyentuh komputerpun pada saat itu belum pernah aku melakukannya.

Pada awal masuk orientasi, aku benar-benar panik, ketika berkenalan dengan teman-teman baru mereka bercerita bahwa pada waktu SMA sudah mengikuti kursus komputer, pada waktu itu programnya wordstar dan lotus. Aku mulai minder, aku takut nanti akan sangat ketinggalan di kelas, karena bagian pojoknya komputer saja belum pernah aku sentuh. Pada saat itu yang ada dipikiranku hal yang paling menakutkan adalah “tak bisa menghidupkan komputer”. Bahkan ketika materi orientasi digelar, dan materinya adalah pemantapan jurusan aku yang karena ketakutanku pada ketidakbisaanku terhadap komputer telah mengantarku pada pertanyaan yg lansung disamput tawa semua peserta orientasi. Pertanyaanku sungguh sederhana, “Bapak pemateri, mungkin sebenarnya  saya ini salah jurusan, saya berani mangambil jurusan informatika, sementara pengalaman saya mengenal komputer saja masih nol, jangankan menggunakan pak, menyalakan komputer saja saya ini tak pernah, akankah ini nantinya bisa mengikuti perkuliahan dimana saya melihat teman-teman yang lain tidak asing dengan benda mewah tersebut….” Pemateri hanya tersenyum pada saat itu, saya ingat betul pematerinya adalah Bapak Adi Pramono, S.Kom. Kemudian beliau yang pembawaannya selalu kalem dan sabar tersebut membangun kepercayaan diriku dengan prinsip gelas air minumnya. Jawabnya masih terkenang hingga sekarang, “Menyalakan komputer tak ada bedanya dengan ketika kita menyalakan televisi atau radio, dan mengenai ketakutan tak bisa mengejar ketertinggalan pengetahuan tentang komputer, cukup anda pahami bahwa seorang dosen dalam memberikan materi tak akan membedakan antara mahasiswa satu dengan mahasiswa lainnya. Ketika sang dosen membagikan satu gelas ilmu pada mahasiswa, semuanya akan mendapatkan sama satu gelas. Mungkin pemahaman mahasiswa yang tak sama yang mengakibatkan bagiannya mungkin hanya terisi setengah atau kurang dari satu gelas, tapi itu tak akan pernah bisa menjadi lebih dari satu gelas, walaupun awalnya gelasnya sudah ada isinya. Jadi kenapa mesti takut, kalau kita bisa mengambil semua bagian kita maka insya allah, tidak menjadi jaminan bahwa yang mengetahui lebih dulu, akan memberi hasil yang lebih baik.” dari penjelasannya itu aku membangun kepercayaan diri. Walau aku memulai memegang keyboard dengan teknik 11 jari, dengan ditertawakan asisten dosen, aku tak mau menyerah, itulah proses belajar.

Pada saat itu bisa dibilang aku ini mahasiswa miskin. Ada dosen yang menyindir, aku berani berangkat perang dengan tangan kosong. Maksudnya, aku ngambil jurusan informatika, tapi komputer sebagai senjatanya atau media utama  mahasiswa informatika tak kumiliki. Aku selalu ada paling depan, mengantri untuk bisa menggunakan lab komputer ketika jadwal penggunaan lab kosong. Bahkan aku ingat pada saat itu aku berusaha menjalin hubungan khusus walau sebenarnya tak ada perasaan, dengan staff  lab agar aku diprioritaskan. Yang pada akhirnya aku bisa memanfaatkan komputer dengan sedikit leluasa dikampus, sehingga mampu membuat nilaiku bisa dibilang lumayan sehingga aku dianggap layak untuk bisa menjadi asisten dosen. Dan celakanya aku diajukan oleh dosen Mata Kuliah Internet I yang bernama Mahmuddin Yunus S.Kom menjadi asistennya. Kenapa celaka??? Karena dengan menjadi asisten bukan hanya materi Front Page yg harus diberikan tapi juga seputar penggunaan internet secara online yaitu email, browsing, searching, download, upload, dan (mungkin perlu) chatting. Padahal pada saat itu aku masih belum paham dengan semua yang berakhiran “ing” tersebut.

Dengan tekat bulat dan keinginan untuk memperbaiki taraf hidup  (ha ha ha ha, kemoncolen) aku berusaha untuk mempelajari dulu semuanya dengan menyewa di warnet. Karena mencari tarif yang termurah maka aku mendekati dan mengompori teman-teman se kos-kosan yang sering ke warnet untuk ke warnet malam hari saja, soalnya tarif kalo malam hanya 2.000 rupiah, kan lumayan dr jam 10 malem sampai jam 6 pagi hanya 16.000, kl siang kan sampai 3.500 sejamnya. Dan dengan pengetahuan sedikit tentang dunia internet, aku rasa cukup untuk bisa menjadi asisten dosen matakuliah Internet I.

Dengan aku menjabat menjadi asisten dosen, aku mendapat fasilitas penuh atas penggunaan lab dan juga fasilitas internet. Selain untuk belajar, komputer di kampus bisa aku gunakan untuk sedikit refreshing, dengan kegiatan internet berakhiran “ing”, terutama chatting….. Walau hanya mIRC software chatting yg ada, bisa menghasilkan kisah-kisah baru dan seru dengan dunia maya ini…. (ngerti kan???)

Tapi sebelum aku lulus aku sudah menikah karena keberanianku menantang seorang teman yang berani menyatakan cinta, yang kujawab dengan nada guyon. “Kalau jadi pacarmu aku menolak, tapi kalau jadi istrimu aku menerima” Ehhh.. temanku serius, ya udah deh aku menikah dan akhirnya aku memutuskan untuk menikah sambil terus melanjutkan kuliah dan setelah lulus kuliah menjadi ibu rumah tangga saja, yang tinggal di daerah terpencil yang tak ada fasilitas internetnya. Tapi setelah hampir 6 tahun tak menjamah internet, akhirnya dengan speedy aku bisa lagi beraktifitas di internet dengan akhiran “ing”. Dan yang paling mangasikkan tentunya adalah online, buka facebook, chatting dengan teman sampai lupa anak belum sarapan, karena dari bangun tidur mata belum benar-benar melek, sudah langsung menyalakan komputer……….(wkwkwkwkwkkkkkkkk)

Halo dunia!

19 Juli 2009 at 11:22 | In Tak Berkategori | 1.898 Comments

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^